Kali Sengara

Sak bekja bekjane wong kang lali isih luwih bekja wong kang eleng lan waspodo.

“Celengan Bisma”, Menggugat Peran Panutan

Ki Slamet GundonoRibuan burung pemakan bangkai berarak di angkasa sehingga langit menjadi hitam. Mereka berebut hendak memangsa jasad Resi Bisma yang terkapar di padang Kuru Setra. Mendadak ribuan burung kuntul menyerbu, lalu menimbuninya dengan bulu-bulu mereka yang putih sehingga jasad itu tertutup seperti padang salju.

Repertoar “Celengan Bisma” yang dipentaskan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, Minggu (26/7), diakhiri Slamet Gundono dengan orasi tentang sisi gelap tokoh yang dianggap panutan, seperti Bisma.

Ia mengingatkan agar orang kritis menghadapi tokoh-tokoh seperti itu, sambil menyesalkan kalangan tokoh agama yang berkhianat dengan masuk ke dunia politik sehingga membuat umatnya tersesat.

Tak usah bingung oleh pernyataan Slamet yang merancukan antara Bisma tokoh Kerajaan Astina dalam pewayangan dan moralitas para ulama di dunia kontemporer. Ia dengan enak asal comot tokoh dari berbagai dimensi dan identitas dalam satu adonan tema. Dan dengan improvisasi yang cerdas, ia bisa memancing ekstase penontonnya pada pesan moral yang mau dia sampaikan-selalu dalam konteks menghibur.

Tragedi Bisma yang memilih hidup selibat, dan menolak mengawini Dewi Amba, diawali oleh Slamet dengan adegan “malam pertama yang gagal”. Bisma dan Amba diberi identitas sebagai Muslim dengan saling mengucapkan asalamualaikum ketika beranjak ke ranjang pengantin. Ketika dua tubuh itu hampir bersatu, Bisma mendadak teringat sumpahnya yang tidak akan kawin karena tak mau menurunkan penguasa.

Dari wayang dua dimensi, adegan dilanjutkan dalam pentas teater. Didahului tampilnya lima “Semar” berpotongan tambun serupa sang dalang, Slamet membuka dialog dengan mereka tentang mengapa banyak tokoh panutan masuk dunia politik.

Adegan teater kontemporer ini bertambah konyol oleh tampilnya Bisma yang dimainkan Hanindawan dan Dewi Amba oleh Ida Lala. Mereka mengocok perannya lewat dialog-dialog yang ceplas-ceplos dan “menjurus”. Penonton dibuat ketawa terpingkal mendengar istilah “dibolongi”, atau “kata teman wanitaku, semalam bisa tujuh kali”.

Dalam bahasa gado-gado, Jawa dan Indonesia, diselang-seling dengan tembang dan gending Jawa yang kreatif, wayang lindur yang digelar Slamet Gundono-dengan tema cerita apa pun-selalu berhasil memberikan hiburan plus. Disebut wayang lindur, semula bermakna pada penggal adegan menjelang gara-gara, lalu dikonotasikan sebagai ngelindur (mengigau).

Konsep wayang Slamet Gundono adalah teater “main-main” karena ia agaknya mau mengembalikan hakikat kesenian sebagai “permainan”.

Oleh Ardus M Sawega
Kompas. Selasa, 28 Juli 2009

Sumber: Kompas.

Pranala:

About these ads

Written by Ponco Reko

07/11/2009 pada 3:55 pm

Ditulis dalam Berita Kali Sengara

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: