Kali Sengara

Sak bekja bekjane wong kang lali isih luwih bekja wong kang eleng lan waspodo.

Kepemimpinan Sebagai Bagian Budaya Bangsa

leave a comment »

wayangKonsep Kepemimpinan dalam hastha brata sebagai warisan luhur budaya bangsa. Dapat dijabarkan bahwa hastha brata atau delapan ajaran keutamaan, seperti yang ditunjukkan oleh sifat-sifat alam. Seorang pemimpin harus berwatak matahari, artinya memberi semangat, memberi kehidupan, dan memberi kekuatan bagi yang dipimpinnya. Harus mempunyai watak bulan, dapat menyenangkan dan memberi terang dalam kegelapan. Memiliki watak bintang, dapat menjadi pedoman. Berwatak angin, dapat melakukan tindakan secara teliti dan cermat. Harus berwatak mendung, artinya bahwa pemimpin harus berwibawa, setiap tindakannya harus bermanfaat. Pemimpin harus berwatak api, yaitu bertindak adil, mempunyai prinsip, tegas, tanpa pandang bulu. Ia juga harus berwatak samudera, yaitu mempunyai pandangan luas, berisi, dan rata. Akhirnya seorang pemimpin harus memiliki watak bumi, yaitu budinya sentosa dan suci.

Ki Hadjar Dewantara (1930) mengemukakan bahwa masyarakat Indonesia yang ingin maju secara wajar harus menganut sistem demokrasi dan kepemimpinan (democratie en leiderschap). secara umum, masyarakat Indonesia dari sudut pandang budayanya menjunjung tinggi pendapat orang banyak, pendapat rakyat umum yang mana didalamnya harus terkandung suatu kearifan bangsa. Tujuannya dalam pencapaian bersama, suatu kebenaran mutlak adalah sebagai pencapaian akhirnya. Kepemimpinan itu sendiri, Ki Hadjar Dewantara menyimpulkan peran pemimpin adalah ‘tut wuri handayani’, artinya bahwa kepada masyarakat (pengikutnya) diberikan kesempatan untuk berkembang atas prakarsa sendiri dengan selalu diamati secara continue. Akan tetapi jika masyarakat berada dalam titik kebuntuan, proses dimana masyarakat menghadapi kemandegan dalam pengambilan tindakan dan berkreativitas.

Tugas seorang pemimpin adalah ‘ing madya mangun karsa’ yaitu berada dalam kebuntuan tersebut dengan mengambil sikap dan kehendaknya. Bersama masyarakat sang pemimpin menunjukkan kreativitasnya dalam pencapaian tujuan. Namun jika akhirnya masyarakat berada dalam titik gelap. Seorang pemimpin haruslah ‘ing ngarsa sung tuladha’ artinya berada didepan untuk memberikan teladan kepada masyarakat. Jadi, konsep democratie en leiderschap (pemimpin berada di belakang ‘tut wuri handayani’ di tengah ‘ing madya mangun karsa’ dan di depan ‘ing ngarsa sung tuladha’) yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara itu memunculkan suatu konsep pandangan budaya Indonesia yang berakar yang tertanam rapi pada setiap dada bangsa Indonesia. Nasio yang merupakan harmoni antara bagian terbesar pendapat masyarakat dengan pengetahuaan pemimpin. Sehingga dapat dibayangkan suatu hasil kearifan tertinggi dengan faedah terbesar bagi bangsa.

Sosok pemimpin mengenai budaya bangsa adalah cara memelihara keadaan yang ‘tata tentrem’, sebuah konsep jawa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda sebagai istilah ‘rust en orde’ (kedamaian dan ketertiban) jika harga untuk menghindari kekacauan itu terarah kepada penguasa atau tuntutan kehidupan kelompok, demikian menurut Mulder. Harganya tidak mahal, karena kelangsungan dan keadaan damai merupakan sesuatu yang jauh lenih penting.

Sosok pemimpin menurut Keeler (1985) adalah dapat memenuhi citra ideal sebagai sosok teladan, seorang pemimpin yang berjiwa kuat, memikat dan penuh dengan sifat baik. Efektifitas kekuasaan diukur dengan kemampuan untuk menyembunyikan instrument kepemimpinan. Memolesnya, dan bukan memperlihatkan bahwa kekuasaanlah yang menjadikannya pemimpin. Budaya jawa tidak dapat dibatasi hanya pada ide tentang kekuasaan, dan ide tentang kekuasaan tidak dapat dibatasi hanya pada masalah tentang sosok teladan. “Budaya jawa adalah sekumpulan ide, norma, keyakinan dan nilai yang sangat beragam sehingga tidak mungkin dapat dilukiskan sebagai ‘keseluruhan yang padu’ sebaliknya, perhatian kita hendaknya dipusatkan pada distribusi dan reproduksi dari pengetahuan yang demikian beragam pada masyarakat”-Eldar Braken-.

Itu artinya, masyarakat jawa dalam kepemimpinannya bukan hanya soal untuk memadukan berbagai aspek dalam kepemimpinan, tetapi lebih jauh lagi fokus kepemimpinan itu berada pada pola pikir masyarakat. Sejauh ini dapat disimpulkan, kepemimpinan itu erat hubungannya dengan bagaimana pola prilaku masyarakat dalam menjalani hidup. Artinya, kepemimpinan bukan suatu yang mutlak yang dapat disimpulkan begitu saja. Karena kepemimpinan itu sendiri memiliki berbagai acuan yang menyokongnya. Sehingga dalam penentuannya, konteks kepemimpinan harus lebih difokuskan terlebih dahulu. Sebab, moral, pola pikir dan prilaku masyarakat dapat lebih mempengaruhi proses kepemimpinan itu sendiri.

Menurut Niels Mulder, kata kunci untuk memahami demokrasi pancasila dan hak asasi manusia tidak terletak dalam pengertian kesetaraan tetapi didalam ide kekeluargaan. Dalam fungsinya sebagai suatu keluarga, dapat ditarik suatu argumen bahwa pada dasarnya, demokrasi pancasila yang dianut bangsa Indonesia itu menaungi suatu asas yaitu kekeluargaan. Kekeluargaan yang berarti keharmonisan antar individu, kerukunan antar individu, dan persatuan dan kesatuan bangsa. Dan oleh karena adanya kesatuan itulah tujuan dapat dicapai.

Lebih lanjut, Niels Mulder menyamakan pemahaman bahwa apa yang baik untuk semua adalah baik untuk seseorang. Bangsa dipandang sebagai sebuah keluarga, atau paling tidak dipimpin oleh prinsip kehidupan keluarga. Kepentingan bersamanya merupakan kepentingan pribadi yang sama-sama dimiliki yang harus dilindungi dari anggota yang bukan keluarga, dan dari mereka yang tidak berprilaku menurut ketentuan keluarga. Dan tugas seorang pemimpin harus memiliki kualitas sebagai penunjuk jalan, atau pengasuh yang mendorong, memimpin dan membimbing mereka yang harus dididik. Dengan kata lain, seorang pemimpin adalah seorang bapak dan pelindung yang dapat dipercaya yang harus dihormati dan diteladani, yang prilaku dan keinginannya merupakan perintah dan menaruh perhatian pada anak buahnya (pengikutnya). Sehingga dapat diikatkannya menjadi satu dalam ikatan keluarga.

Sumber: id.shvoong.com.

Written by Ponco Reko

10/11/2009 pada 3:58 am

Ditulis dalam Budaya Bangsa, Kepemimpinan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: